Apa yang menjadi keharusan di tiap bulannya, terlewatkan begitu saja.
Lihat! Hari ini memasuki bulan September. Empat bulan menuju 2013 dan 2012 hampir habis masanya.
Lalu apa yang sudah ditorehkan dalam waktu delapan bulan? Dalam 240 hari kemarin?
A day by day, through my eyes and my mind, I just want to be a learner.
Saya tidak tinggal diam. Meskipun seperti tak ada yang berubah, meskipun seperti enggan untuk menggoreskan pena, saya cukup berhasil menjadi seorang pengamat. Menjadi pengamat yang tak terencana. Apa yang diamati? Jawabannya: banyak. Dan dari sanalah inspirasi datang, dari sanalah ada yang terus mengingatkan untuk terus bersyukur dan tak kenal lelah menggapai mimpi.
Jika bicara mimpi, semangat saya cukup terbakar ketika melihat kisah teman sebaya, yang sudah ‘terbang’ terlebih dahulu. Dia begitu cepat mengepakan sayapnya untuk terbang sampai di tujuannya. Satu kata: Hebat. Dan entah mengapa, saya menemui kisah ini terus menerus. Secara kontinyu dan gamblang, juga tanpa syarat, mereka begitu cepat untuk ‘terbang’. See me? For along journey, I just walked at the empty street.
Lalu setelahnya, ada yang menyadarkan saya untuk selalu bersyukur, mereka mengajarkan sebuah ketulusan. Dan luar biasa saya begitu terenyuh.
Ini.. hanya masalah waktu kawan, ya waktu. Kau tau mengapa mereka mengepakan sayapnya lebih dulu dan begitu cepat? Karna waktu telah berkata padanya bahwa ini adalah saatnya, waktu yang menjemput mereka. Dan tak mengenal waktu pula, kita harus bersyukur. Sampai kapanpun, tanpa waktu yang meminta, kita harus tetap menorehkan rasa syukur kita.
Ah begitu banyak antrian kata-kata di memori otak saya. Yang saya tau adalah kita tak cukup untuk terus menunggu, kita tak perlu lagi menunggu waktu yang menjemput kita, tapi kita yang harus membeli waktu. Membeli waktu dengan berusaha. Berusaha dan terus berusaha. Tuhan Maha Tahu. Dan jika tiba waktunya, ya silahkan kau terbang setinggi yang kau bisa! Tidak ada kata “nanti” yang ada hanyalah “sekarang”. Maka berusahalah sekarang!
Tapi ingat, tetaplah kau berjalan dengan yang lain, kau harus realistis! Karena setiap orang tak sama, setiap orang memiliki kapasitas yang berbeda pula. Kau cukup berjalan dengan keyakinan hati. Seperti ayah Pidi Baiq bilang: “Tetapkanlah pikiran kami selalu melangit. dan dengan hati yang terus membumi”
Cerita kalian begitu sarat makna. Itu mengapa saya sering bilang : semoga kita sukses di jalannya masing-masing. Ya karena saya yakin kamu, aku, kita akan sampai di tujuan kita dengan jalannya masing-masing.
Terimakasih untuk ceritanya, terimakasih untuk inspirasinya, terimakasih telah mengajarkan untuk terus menulis dan belajar berbagi.
-Dua hari menjelang untuk kembali pada rutinitas-
No comments:
Post a Comment
leave your comment here, thanks ;)